Tuesday, November 16, 2010

800 Ilmuwan Indonesia Bekerja di Luar Negeri

Mereka adalah aset bangsa yang harus bisa dimanfaatkan untuk kepentingan negara

Lebih kurang 400 ilmuwan Indonesia bekerja di berbagai institusi penelitian bergengsi di luar negeri, bahkan banyak diantaranya menduduki posisi penting.

"Dari lebih kurang 800 ilmuwan Indonesia di luar negeri, 400 diantaranya bekerja di lembaga riset dan penelitian yang cukup bergengsi, bahkan banyak juga yang menduduki posisi penting," kata Wakil Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) Dr Arif Satria di Bogor, Rabu, 24 Februari 2010

Seperti yang dilansir tvone.co.id, para ilmuwan tersebut, katanya, adalah aset bangsa yang harus bisa dimanfaatkan untuk kepentingan negara.

Keberadaan mereka di lembaga penelitian asing, katanya, bisa dimanfaatkan untuk membuka akses bagi ilmuwan di Indonesia untuk belajar atau melakukan riset di institusi tersebut.

Bahkan, mereka juga bisa membagi informasi dengan rekan-rekan mereka di Tanah Air mengenai kemajuan penelitian di suatu negara, kata Arif yang juga menjabat sebagai Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Mereka bukan pengkhianat bangsa. Tetapi pemerintah hendaknya bisa memanfaatkan mereka untuk membuka akses bagi ilmuwan lain di Indonesia untuk sekolah ataupun mengadakan riset di luar negeri," katanya.

Ia mengakui bahwa para ilmuwan tersebut memilih berkarya di luar negeri karena pertimbangan karir yang lebih bagus dan lebih dihargai. "Secara finansial lebih terjamin bagi mereka bekerja di luar negeri," tambahnya.

Untuk menjalin kolaborasi antara ilmuwan di Indonesia dan di luar negeri, pada Juli 2009 dibentuk Lembaga Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) untuk merangkul ilmuwan bangsa yang berada di seluruh penjuru dunia.

Basisnya ada di Jakarta, namun kebanyakan pengurusnya ada di luar negeri, bahkan ketua lembaga ada di Singapura, katanya.

Terkait banyaknya ilmuwan yang bekerja di luar negeri, lembaga baru ini hanya bisa melakukan mediasi antar ilmuwan sehingga mereka bisa saling membagi informasi, katanya.

"Kami tengah membuat `database` mengenai ilmuwan-ilmuwan yang ada di berbagai negara, sehingga pada saatnya nanti jika dibutuhkan kita bisa memanfaatkan jasa mereka," katanya.

• VIVAnews

READ MORE

Monday, November 15, 2010

Hari Raya Idul Adha, NU dan Muhammadiyah Beda

Muhammadiyah menghitung Idul Adha jatuh pada 16 November. Sementara NU pada 17 November

Meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah telah menetapkan Idul Adha 1431 Hijriyah jatuh pada Rabu 17 November 2010, diperkirakan sejumlah umat Islam tak serentak merayakannya.

Dua organisasi Islam terbesar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) punya hitungan berbeda dalam soal menentukan jatuhnya tanggal 10 Dzulhijjah 1413 Hijriah atau Hari Raya Idul Adha pada tahun ini.

Ketua MUI Kiai Haji Ma`ruf Amin mengatakan MUI bersama pemerintah menetapkan Idul Adha pada 17 November 2010, berdasarkan perhitungan hisab dan rukyat. "Ketika memutuskan tanggal 1 Dzulhijjah 1413 H, saat 29 Dzulqa'idah (6 November 2010) ternyata hilalnya di bawah dua derajat, karena itu tak mungkin rukyat atau diistilahkan ijtimak (bulan baru). Jadi, digenapkan 30 Dzulqa'idah. Maka Idul Adha jatuh pada 17 November," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Senin 15 November 2010.

Dia menambahkan, kalau pun ada yang mengaku melihat hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru), mestinya bisa ditolak. Sebab, posisinya kurang di bawah dua derajat, atau kemungkinan terjadinya rukyat. "Rukyat itu diterima bila sesuai dengan perhitungan akal, rasa, dan kebiasaan," kata Ma'aruf.

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan awal bulan pada Kalender Hijriyah. Sedangkan rukyat adalah visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang terlihat pertama kali setelah terjadinya ijtimak (bulan baru). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau memakai alat bantu optik seperti teleskop.

Jika hilal terlihat, maka pada pada petang (maghrib) waktu setempat maka saat itulah bulan (kalender) baru Hijriyah berlaku.

Perbedaan bukan soal

Meski begitu, Ma'ruf menghargai perbedaan itu dan tidak melarang perayaan Lebaran Haji 1431 H dilaksanakan pada 16 November 2010 atau 9 Dzulhijjah. Hal itu untuk meninggikan semangat persaudaraan dan mencegah terjadinya konflik antarumat.

Sebagian umat Islam, ujar Ma'ruf, kemungkinan akan merayakan Idul Adha pada 16 November 2010, yaitu Muhamadiyah. Hal itu terjadi, kata Ma'ruf, karena mereka mengaku sudah melihat wujud hilal. "Jadi, berapa pun tingginya sudah dianggap masuk,"

Mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimin berpendapat, jatuhnya perayaan Idul Adha pada 16 November 2010 sudah berdasarkan hisab hakiki atau sudah dihitung sejak lama bersamaan awal Ramadhan dan 1 Syawal 1431 H. "Jadi, telah disiapkan sejak lama," kata dia saat dihubungi VIVAnews di Jakarta, hari ini.

Dia menambahkan, perhitungan atau hisab Muhammadiyah sudah dilakukan seperti yang diterapkan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). "Tapi kita tetap menghargai saudara kita yang merayakan Lebaran Haji pada 17 November nanti, karena mereka berdasarkan rukyat. Jadi berbeda pendapat boleh, yang penting saling menghargai," ujar Izzul.

Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur juga memastikan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah jatuh pada Selasa, 16 November 2010.

Terkait itu, Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid menjelaskan, telah menerima maklumat dari Muhammadiyah Pusat No 05/MLM/I.0/2010. "Dalam maklumat, ditetapkan 1 Zulhijjah jatuh pada 7 November 2010 dan memastikan pelaksanaan Idul Adha jatuh pada 16 November 2010," kata Nadjib.

Menurut Nadjib, pada saat ijtimak 29 Dzulqa’idah jatuh pada Sabtu, 6 November 2010 pukul 11.53.04 WIB. Saat itu, tinggi hilal pada saat matahari terbenam di Yogyakarta posisinya di 01 derajat 34 menit 23 detik. Selain itu, Hilal sudah wujud di lokasi Tanjung Kodok, Tuban, Jatim dengan ketinggian 01 derajat 27 menit, 26.11 detik.

Isi maklumat itu diteruskan ke pimpinan wilayah, daerah dan ke seluruh pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah se-Indonesia,

Tanggal berbeda disampaikan Koordinator Rukyatul Hilal Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim, Soleh Hayat yang menyatakan Idul Adha kemungkinan jatuh pada 17 November. Ada sejumlah sebab, kata Soleh, perayaan Idul Adha jatuh pada tanggal tersebut.

Pertama, dalam perhitungan para ahli hisab yang menggunakan kitab-kitab yang jadi rujukan hisab. Dalam kitab Sullamul Nayiren, dari tiga ahli hisab, ada satu yang memutuskan Idul Adha jatuh pada 16 November karena 1 Dzulhijjah jatuh pada 7 November. Sedangkan dua ahli hisab menetapkan awal Dzulhijjah adalah 8 November, sehingga Idul Adha jatuh pada 17 November.

Sedangkan dalam sistem Muwakhib, awal bulan Dzulhijjah juga dijelaskan jatuh pada 7 November. Hal yang sama juga terjadi pada sistem modern. Sementara itu, dalam kitab empiris hisab rukyah, dari perhitungan tujuh ahli rukyah, tiga ahli menyatakan 1 Dzulhijjah jatuh pada 7 November, sementara sisanya pada 8 November.

Selain itu, pada 8 November ketinggian hilal berada antara 1-2,3 derajat. "Itu termasuk masih kecil, karena standar imkanur rukyah (ambang batas sempurnanya hilal) minimal dua derajat ke atas," ujar Soleh.

Anggota Badan Hisab Rukyah Kementrian Agama (Kemenag) Jatim itu melanjutkan, akibat adanya perbedaan penentuan awal Dzulhijah, maka sangat mungkin pelaksanaan Idul Adha berlangsung tak serempak.

Meski begitu, untuk memastikan hari Raya Idul Adha PWNU Jatim akan menerjunkan tim rukyatul hilal di delapan lokasi. Di antaranya, di bukit Condro Gresik, Pantai Nambangan Surabaya, Pantai Gebang Bangkalan, Pantai Ngliyep Malang, Pantai Serang Blitar.

Selain itu, tim rukyatul hilal juga akan melakukan pemantauan di Pantai Khalbut Situbondo, Pantai giliketapang Probolinggo dan pantai Srau Pacitan. "Hasil rukyah itu yang nanti jadi pijakan untuk memastikan kapan pelaksanaan Idul Adha tahun ini," ujarnya.

Perhitungan Lapan

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin juga mengaku tahun ini Idul Adha 1431 Hijriyah terancam ada perbedaan. "Ini karena ada perbedaan penentuan awal bulan Dzulhijjah," kata dia.

Menurut Thomas, perbedaan penentuan Idul Adha terjadi karena perbedaan cara perhitungan di antara organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Tanah Air. "Akan ada Idul Adha pada 16 dan 17 November, karena perbedaan kriteria awal bulan. Jika menggunakan hilal, Idul Adha terjadi pada 16 November, sedangkan melalui metode rukyat terjadi pada 17 November," ujarnya.

Lapan mengakui, posisi bulan baru yang ditandai terlihatnya hilal sulit dilakukan. Lembaga itu memperkirakan ketinggian bulan pada awal Djulhijjah kurang dari dua derajat. "Walau sudah positif, dengan hitungan rukyat itu belum masuk," katanya.

Perbedaan seperti itu, menurut perkiraan Lapan, juga bakal terjadi pada penentuan Hari Raya Idul Fitri di 2011. Sedangkan pada 2012 dan 2013 ada perbedaan penentuan awal Ramadan. Sementara pada tahun 2014, akan terjadi perbedaan penentuan awal puasa dan hari Lebaran karena tinggi bulan diperkirakan hanya 0,8 derajat.

Lapan, kata Thomas, mengusulkan agar dibuat kriteria baru menetapkan awal bulan untuk penanggalan Islam. Lapan sendiri mengusulkan tinggi hilal seharusnya ditetapkan sebesar empat derajat. "Kriteria astronomi ketinggian di atas empat derajat. Saya usulkan agar penentuan penanggalan juga dilakukan melalui metode ilmiah yaitu menggunakan ilmu astronomi," kata dia.

Sementara itu, Kepala Observatorium Bosscha, Hakim L Malasan menyatakan Hari Raya Idul Adha akan jatuh pada hari Rabu, 17 Nopember 2010. Penentuan ini berdasarkan pengamatan bulan (hilal) yang dilakukan selama 10 hari terakhir di observatorium yang berada di Lembang, Bandung, Jawa Barat itu.

"Memang hari raya itu ada dua versi, antara Selasa dan Rabu. Tapi menurut pengamatan yang kami lakukan akan jatuh pada Rabu," ujar Hakim L Malasan. Pengamatan itu, kata Hakim, dilakukan dengan teropong Teodolit. Teropong sama digunakan saat penentuan Hari Raya Idul Fitri.

Observatorium Bosscha juga telah bekerja sama dengan Kementerian Keagamaan dalam menentukan hari besar keagamaan.(np)

Editor :VIVAnews & Venews

READ MORE

Miss World 2010 Terlibat Skandal Foto Tanpa Busana

Nama Miss World kembali tercoreng dengan kabar keterlibatan sang Miss World 2010 baru, Alexandria Mills dalam sebuah skandal fotoTanpa Busana. Sebuah media asing, Radar Online, pun telah mengklaim bahwa foto Tanpa Busana Mills ini asli.

Dalam foto tersebut, Mills sepertinya memotret dirinya sendiri di sebuah kamar mandi, dan kabarnya foto Tanpa Busana ini dikirimkan kepada kekasihnya saat itu juga.

Baik Alexandria maupun perwakilannya masih belum memberikan keterangan resmi mengenai skandal sang Miss World berusia 18 tahun yang berasal dari Louisville, Kentucky, AS, ini.

Walaupun Alexandria adalah kontestan AS pertama yang menjadi Miss World, namun dia bukan pemenang kontes kecantikan pertama yang terlibat skandal foto Tanpa Busana. Miss Rusia 2009, Sophie Rudyeva sempat mencoreng namanya dengan menjadi model Tanpa Busana bagi majalah Perfect 10 setelah penobatannya. Miss California 2009, Carrie Prejean juga pernah menjadi bahan pembicaraan media terkait foto-foto menantangnya ketika masih remaja. (ace/mae)
READ MORE